All About That Treble

27 Nov

Berlawanan dengan single hit dari Meghan Trainor, saya justru all about that treble, no bass. Kalo lagu itu bercerita tentang orang dengan plus size, says minus size. Ada penggalan lirik lagu yang seperti ini…

Well my momma, she told me don’t worry about your size…

Memang cuma Ibu yang mau menerima saya apa adanya, beliau tidak suka melihat saya gemuk dan tembem. “Kamu udah dari sananya kurus, ga usah sok-sokan diet atau apalah itu. Terima aja!” Terdengar sedikit harsh, kan? Tapi itu bukti tanda unconditional love seorang Ibu terhadap saya. Di kala orang-orang sekitar (bahkan kakak sendiri) menyuruh saya supaya gemuk, beliau bersikap sebaliknya.

Beberapa bulan lalu saya memang gemuk, karena ikut program penggemukan. Workout, minum susu penambah berat badan, minum suplemen, hasilnya ya memang orang-orang sekitar terlihat senang. Tapi mata seorang ibu bisa melihat penderitaan anaknya yang berusaha tampil menyenangkan banyak orang, beliau meminta saya mengurangi berat badan. Saya menurut, dan berhasil menurunkan berat badan beberapa kilogram, hasilnya muka saya kembali tirus, tapi bahagia karena badan ringan.

Menjalani diet tidak pernah menyenangkan, saya merasa tersiksa saat disuruh makan. Rasa tersiksanya sama seperti orang gendut ga boleh makan. Yah, manusia kan beda-beda, ya.

Sayapun kini menyeleksi pertemanan dan pergebetan saya. Orang-orang yang menyuruh saya “gemukin dikit lagi”, akan saya anggap tidak bisa menerima saya apa adanya. Jadilah saya menjauh dari teman-teman yang seperti itu dan mencoret gebetan-gebetan dari daftar prospekan. Saya hanya mau berhubungan dengan orang-orang yang membuat saya nyaman, membuat saya maju, dan menerima saya apa adanya. Hidup cuma sekali, jangan menyusahkan diri.

“Abs are cool.
No abs are cool.
Big butts are cool.
Small butts are cool.
Having curves is cool.
Not having curves is cool.
Being lean is cool.
Not being lean is cool.
You know what’s NOT cool?
Telling someone else how they should or shouldn’t look.” – ‪#‎StopBodyShaming‬

Tidak Terlatih

3 May

Ada salah satu hal yang tidak diperbolehkan Ayah kepada saya sejak kecil. Saya tidak boleh memelihara binatang! Dulu saya tidak tahu alasannya, tapi sekarang-sekarang ini akhirnya saya mengerti alasannya.

Ayah tidak mau saya patah hati.

Usia binatang yang lebih pendek dari manusia menjadikannya pergi lebih cepat. Ayah tak mau melihat saya menangis setiap ada peliharaan yang meninggal, karena Ayah tahu kalau perasaan saya halus sekali. Pernah beliau melindas kecoak dengan motornya di hadapan saya, dan saya menangis keras. Padahal hanya seekor kecoak! Tapi ya memang saya penyayang binatang, walau tidak diijinkan memelihara binatang.

Tapi, hal ini sedikit menyulitkan saya di kala dewasa. Saya tidak terlatih patah hati. Jadi saat bertepuk sebelah tangan atau ditinggal tanpa alasan, saya depresi. Sungguh perasaan yang halus dan bebal.


“Animals are such agreeable friends – they ask no questions; they pass no criticisms.” – George Eliot

Kisah Singkat Haji Eks

11 Apr

Tadi pagi sesaat sebelum berangkat menuju tempat kerja, sambil mengenakan sepatu, ada obrolan singkat dengan ibu.

“Cucunya Haji Eks itu sekarang ada yang jadi pengemis loh.”
“Hah, kok bisa? Bukannya Haji Eks itu orang kaya ya?”
“Iya. Tuh kata banyak orang, banyak saksi yang ngeliat dia ngemis di lampu merah.”
“Orang tuanya?”
“Pengangguran.”
“Masya Allah.”
“Coba kalo Haji Eksnya masih ada, pasti ga bakal dibolehin tuh.”
“Warisannya gimana?”
“Udah habis dibagiin ke anak-anaknya. Ga ada yang kerja anak-anaknya, males semua.”
“Yakampun…”
“Makanya kamu harus banyak bersyukur, orangtuanya ngerti kalau pendidikan itu penting.”
“Iya.”
“Nyekolahin seorang anak itu biayanya sama kayak bikin rumah gedong.”
“Iya.”
“Ibu bisa aja punya rumah banyak, tapi nanti anak-anak ibu ga sekolah.”
“Iya.”
“Kamu sama kelima kakak kamu, kan sampai pendidikan tinggi semua, kuliah semua.”
“Iya.”
“Ibu sih mikiriin anak, bukan ngejer kekayaan. Soalnya ibu yakin, pendidikan itu bekal buat anak.”
“Iya.”
“Makanya kamu jangan males, kerja yang bener.”
“Iya.”
“Ini sarapannya.”
“Iya, berangkat dulu ya,” ujar saya sambil mencium tangan ibu.

“Education is a fundamental human right and essential for the exercise of all other human rights. It promotes individual freedom and empowerment and yields important development benefits. Yet millions of children and adults remain deprived of educational opportunities, many as a result of poverty.” ~ UNESCO

Tumbuh Dewasa

10 Dec

Ada sebuah quote yang sangat menarik,

Love your parents, we are so busy growing up we often forget our parents are growing old. – unkown

Betul sekali, Ayah dan Ibu bertambah tua setiap hari, sementara saya terlalu sibuk menjadi dewasa. Walau saya tinggal di rumah bersama mereka, tapi seringkali saya pulang malam dan berangkat pagi, tak mau meluangkan waktu untuk sekedar bercerita singkat mengenai apa yang terjadi hari itu. Begitu sampai di rumah biasanya saya langsung masuk ke kamar dan tenggelam dalam dunia saya sendiri, padahal Ayah dan Ibu belum tertidur.

Tapi sungguh saya bersyukur, mungkin saya termasuk dalam golongan sedikit orang-orang yang bisa mencium tangan kedua orangtuanya sebelum keluar rumah untuk beraktivitas seharian. Dan saya terkadang lupa bersyukur untuk hal-kecil-namun-luar-biasa-itu.

Ayah baru saja melewati usianya yang ke-70, sementara Ibu menginjak usia 60 beberapa bulan lalu. Saya? Berkepala tiga saja belum. Sempat pernah ada obrolan mengenai siapa yang lebih dulu meninggal dengan Ibu saya.

“Nanti kalau Ibu duluan yang meninggal, yang ngurus Ayah siapa?”

“Sudah, jangan mikir kayak gitu, Bu. Siapa tahu saya yang duluan meninggal.”

“Jangan lah, kamu masih muda. Biar Ayah atau Ibu saja yang duluan.”

“Ya, jaga-jaga aja, kalaupun saya yang meninggalkan kalian berdua duluan, saya sudah punya asuransi jiwa. Ga seberapa sih dapatnya, tapi paling tidak ada yang bisa ditinggalkan lah. Nama Ibu jadi ahli waris utama.”

Lalu Ibu terdiam dan tak melanjutkan obrolan kami tentang kematian.

Jodoh, rezeki, dan kematian, semua sudah digariskan oleh Tuhan.

 

“The clock never stops, never stops, never waits. We’re growing old. It’s getting late.” – Ben Folds

Mendadak Buta

30 Sep

Kejadiannya dua tahun lalu, dua hari selepas Idul Fitri. Saya ditinggal di rumah berdua dengan Ayah, karena Ibu sedang pergi piknik bersama teman-temannya. Pagi itu saya yang masih tertidur pulas dikejutkan dengan teriakan Ayah dari kamar. Dengan kesadaran yang kurang dari setengahnya, saya tergopoh-gopoh pergi ke kamar beliau dan menemukannya terduduk di atas ranjang dengan pandangan kosong.
“Gak bisa ngeliat!” rengek Ayah.
Saya langsung melambaikan tangan di depan kedua matanya. Tak ada pergerakan dari bola matanya. Panik!
“Ya sudah, Ayah tiduran dulu, saya carikan pemecahannya.” entah apa itu pemecahannya. Saya bukan dokter dan tak punya pengetahuan apapun mengenai penanganan orang yang mendadak kehilangan penglihatan.
Telepon Ibu! Yak, itu mungkin yang ada di pikiran orang-orang kebanyakan. Saya tak mau mengganggu kesenangan Ibu yang jarang sekali bepergian ke luar semenjak Ayah sakit.

Saya pun memilih untuk pergi ke rumah mendiang nenek, cuma berjarak satu rumah dari rumah kami. Nenek dan sepupu saya mengatakan, penyakit Ayah karena gula darah yang tinggi, pandangannya buram. Ada benarnya, karena Ayah pengidap diabetes.

*

Sepekan setelah kejadian itu, kadar gula darah Ayah sudah kembali normal menurut dokter, tapi Ayah masih tak bisa melihat. Aku dan Ibu membawa beliau ke Rumah Sakit khusus mata. Dokter spesialis mata mengatakan Ayah terkena glaukoma, penyakit yang menyerang mata dan belum ada obatnya secara medis.

Sedih rasanya mendengar berita itu, saya dan Ibu pasrah menerimanya. Berbeda dengan Ayah, beliau masih yakin bisa melihat! Ayah belum menerima kenyataan jika dirinya harus kelihatan penglihatan untuk selama-lamanya.

Berbagai terapi alternatif diminta oleh Ayah untuk didatangkan ke rumah. Ada yang tiap sekali datang sampai menghabiskan ratusan ribu rupiah, ada yang mengobatinya dengan cara meneteskan zat-zat yang entah apa namanya ke mata beliau, dan entah banyak lagi. Ayah hanya berharap, tapi mereka hanya bisa memberikan harapan palsu.

*

Sampai sekarang, Ayah masih saja berharap penglihatannya kembali pulih. Entah bagaimana lagi cara untuk membuatnya menerima keadaan yang menimpa pada diri beliau.

 

“No such thing as a man willing to be honest –that would be like a blind man willing to see.” – F. Scott Fitzgerald

Instant

17 Sep

Kurus banget, itulah saya. Sudah bertulang kecil, tak ada tambahan sedikit dagingpun yang ingin mampir.

Ga ngerti kenapa, saya makan sudah banyak, tidur sudah cukup (minimal 6 jam), aktivitas ga ada yang berat (kerjaan cuma duduk depan laptop), ngemil tiap habis makan, intinya saya sudah melakukan hampir semua hal yang bisa menyebabkan obesitas!

Sebenarnya sih pikiran saya tidak punya masalah dengan kondisi badan saya ini, tapi…

I was told I was beautiful
But what does that mean to you

“Kamu kayak habis sakit tipus.” teman kerja dari divis lain pernah bilang gitu.
“Tambah kurus aja tiap ketemu.” kata seorang teman yang hampir tiap sebulan sekali bertemu.
“Orang sih tambah tua tambah gendut, lha kamu kok nambah kurus?” sepupu saya bilang di acara reuni keluarga.
“Sekarang doyan nge-drugs ya?” ujar bekas klien yang tidak sengaja bertemu di sebuah resto.

Tidak tahan dengan omongan orang, saya memutuskan meminum obat yang kata orang bisa bikin gendut secara instan! Dari hari pertama saya minum itu, nafsu makan saya meningkat 1000%! Tiap jam harus mengunyah sesuatu karena rasanya lapar melulu. Ibu sudah memperingatkan, jangan makan obat aneh-aneh, nanti kenapa-napa. Tapi saya tidak peduli, pokoknya saya harus gemuk!

I used to be so cute to me
Just a little bit skinny

Bulan pertama, berat badan naik sampai lima kilogram. Senang pastinya, tapi kok yang besar perut sama pipi doang. Wah, harus nge-gym nih, oke nge-gym.

Bulan kedua, masih naik lagi tiga kilogram, perut kian membesar dan muka kian menebal (bukan karena bedak ataupun menjadi muka badak), jerawat mulai menjajah kulit wajah. Saya sih senang-senang saja, tapi Ibu tampak cemas.

Why do I look to all these things
To keep you happy

Bulan ketiga, jerawat menjalar ke leher, dada, punggung, lengan atas, loh kok jadi banyak?!?!
“Kan, pasti setiap obat ada efek sampingnya!” kata Ibu tanpa bisa menyembunyikan nada khawatir dalam suaranya. Akhirnya Ibu membawa saya pergi ke dokter kulit, dan menurut si dokter, saya harus segera menghentikan konsumsi obat itu!

Jadilah saya berhenti meminum obat-penggemuk-instan itu, dan hasilnya berat badan kembali menyusut seperti semula. Jerawat di wajah dan tubuh pun pudar perlahan-lahan. Saya kembali seperti semula.

Maybe get rid of you
And then I’ll get back to me…

“Ibu lebih suka punya anak mukanya ga jerawatan daripada yang perutnya buncit! Biar kamu kurusnya keterlaluan, tapi kan kamu jarang sakit berat! Syukurin kondisi kamu, puluhan juta orang ngerasa minum air aja bikin gendut! Jangan mau dengerin kata orang, kamu tetep anak Ibu paling ganteng!” kata Ibu.

“Some people are born skinny, and that’s just the way it is. You can’t point a finger at them and say they’re ill or anorexic. It isn’t fair to people born that way. ” – Heidi Klum

Menghabiskan Waktu

12 Sep

Biar ku rakit pesawatku
Rentangkan pelan dua sayapnya
Nyalakan sumbunya hingga terpercik api menari
Lepaskan pengaitnya relakan pergi ke arah bulan

Saya mendengar curhatan Ibu saat ditinggal anak-anaknya satu persatu yang telah beranjak dewasa.

Kata beliau tak ada orangtua yang bisa jauh dari anaknya terlalu lama. Ada kekhawatiran tersendiri mengenai keadaan sang anak saat terlepas dari orangtua. Bukan, bukannya orangtua tidak percaya, ini hanya karena rasa sayang dan peduli yang sedemikian besar. Sebisa mungkin si anak tak boleh tercela ataupun terluka.

Tapi orangtua tak boleh egois, biarkan si anak pergi untuk melihat dunia luas. Tugas orangtua mempersiapkan anak-anaknya untuk menghadapi realita yang terjadi di luar sana, tak hanya terpaku pada tempurung bernama rumah tangga. Semua itu demi kebaikan si anak, dan orangtua mau tak mau harus mengorbankan perasaannya.

Tak perlu kau rindu menunggunya
Perlahan lupakan kepergiannya
Tunggulah kerling lampunya di saat bulan purnama tiba
Pertanda dia telah bertemu dengan peri kecilnya di bulan

Saya bukan orang yang intens mengabarkan kondisi saya setiap hari kepada Ibu dan Ayah. Mereka pun sama, tak begitu sering menanyakan keadaan saya, kecuali jika ada kabar-kabar luar biasa. Ayah dan Ibu percaya saya sudah cukup dewasa dan mampu menjaga diri walaupun jauh dari mereka.

Sekarang, saat saya kembali berada di tengah-tengah mereka, saya menebus waktu yang hilang bersama mereka. Sebisa mungkin saya menghabiskan waktu yang tersisa dengan mereka dan melewati sisa hidup bersama. Karena waktu tak bisa dibeli dengan uang, mari habiskan dengan orang yang tersayang.

 

 

“Pesawatku terbang ke bulan…” ~ Memes